translate languages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

19 Apr 2013

Menikmati Hari Di Pantai

Ku tatap sebelah utara garis pantai yang menjulang biru, gelombang yang semakin anarkis membuat gejolak ketentraman semakin terusik, angin berhembus membawa sebuah irama keberagamanan pantai. Ku sandarkan badan yang telah lelah ke sebuah batu besar, mencoba menikmati hari yang menjelang petang. Matahari mencoba bergumam dengan terik yang memucatkan mukaku, namun aku tak peduli.

Tampak awam berhembus tanpa tujuan yang pasti, dengan berbagai bentuk menghiasi atap dari bumi. Aku yang sedang berada dikolong langit, berangan kecil akan pondok yang sedang ku diami.

Burung-burung sedang mengepak sayap yang gemulai, untuk menuju hutan berantara. Berbeda dengan kepiting kecil yang mulai menampakan aura mangsanya. Sementara aku sedang bermimpi diatas sebongkoh batu yang telah lama mati.

Suara desas-desus angin pantai, membangunkan tidurku., matahari juga telah dimakan sang malam. Dan para malaikat mulai mewarnai deg-deg bumi ini

Bintang surion dari timur telah mendahului absen sang bulan. Dari rimba kecil dibelakang mulai berteriak keganasan malam. Aku bergumam akan kebinggungan bercampur ketakutan, hati ku mulai tak terkendali.

Dengan tertatih-tatih aku bergegas pergi, sebelum diterkam oleh penguasa gelap. Dengan sebilah kayu, aku meraba jalan yang tak lagi bersahabat. Sementara gema ombak sedang berkelahi dengan suara jangkrik di telingaku.

Sesampai dipondok peristirahatan, aku menyadari satu hal lumrah yang mesti diketahui. Hidup bergini indah untuk dapat dijabarkan dan ketakutan tak dapat melakukan semua itu.


Regard

J. George
08 june 2012

Kisah Dendam Positif

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an.

Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur."

Suara itu berasal dari mulut seorangi insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.

Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ?

Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF"

Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu.

Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.

Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?

Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu.Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Tuhan, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini".

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai disini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan "DENDAM POSITIF"

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif."

18 Apr 2013

Jangan Mengorbankan Keindahan dengan hal yang tak esensial

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki2x. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang suka sekali ǞƘǟπ kebersihan ϊηϊ sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian,Sang psikologpun tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"
"Bayangkan rumah ibu yg rapih dan karpet ibu yg bersih, tak ternoda, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia senang dengan bayangan yg dilihatnya.

"Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”
“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yg tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak2 ada bersama anda dan menghangatkan hati ibu".
Ibu itu mulai tersenyum kembali.

"Sekarang bukalah mata ibu"
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Kotor masih bisa dibersihkan, tetapi bila hilangnya kehangatan dan cinta kasih dari orang yg dicintai, mau dicari kemana?

Jangan mengorbankan keindahan hubungan dengan mempertahankan hal2 yg tidak esensial..

[HUMOR] Beramal

Seorang anak muda bersembayang dan menunggu ceramah dari pembuka agama, melihat dengan tidak begitu ramah kepada kotak sumbangan yang di dorong ke arahnya.

Dia membuka dompetnya dan memilih-milih uang yang terkecil untuk sumbangan.

Dengan berat hati dia memasukkan uang lembaran Rp. 1,000.- ke kotak amal.

Sebelum dia mendorong kotak itu ke sebelah, seorang bapak tua di belakang menepuk pundaknya, dan memberikan dua lembar uang Rp. 100,000.-an.

Dia tertegun heran, tapi segera memasukkan dua lembar uang tersebut ke kotak amal, dan mendorongnya ke jemaah berikutnya.

Dia menoleh ke bapak tua tersebut dan berkata: “Kebanyakan atuh Pak? Seribu aja udah cukup. Sayang khan?”

Sang bapak tua tersenyum dan menggeleng ramah, dan mengatakan: “Bukan gitu dik, itu tadi uang adik yang jatuh dari dompet.”

Dimana Posisi Anda Saat Ini? (Setelah selesai Kuliah)

[Refleksi singkat]. Sekedar mengingatkan untuk ‘kita’. Dimana posisi kita saat ini?.. . . *Berhenti meratapi nasib anda sekarang, dan lanjutkan bacaan ini*

4 Tahun yang lalu, anda masih mengenakan pakaian seragam abu-abu, dengan mimik wajah yang terkesan culun abiz. Selepas pulang sekolah yang meratapi buku usang dengan impian singkat ‘pengen lulus secepatnya’. Namun alangkah terkejutnya diri anda, ada beban dan tanggung jawab lebih berat dari sekolah. Nah, itu dimana beberapa tahun lalu anda dengan tegap mengatakan anda seorang ‘MAHA’siswa. Mahasiswa yang identik dengan kepintaran, wawasan luas, jago ngomong (+nyolot) dll. Setelah tahun terus berganti anda mulai menyadari apa itu mahasiswa sesungguhnya, datang kekampus->masuk kelas (atau nongkrong dikantin) -> absen -> duduk manis ->mengikuti kegiatan kampus -> pulang. Disaat itu pula, anda mulai membuat penyangkalan terhadap mahasiswa yang dikenal dalam dunia sosial kemasyarakatan bahwa ‘mahasiswa itu gak seperti yang dibicarakan’. Next, setelah beberapa tahun kuliah ketemu dengan namanya skripsi, matkul yang paling banyak memakan korban jiwa. Untuk yang lulus akan berfantasia dengan wisuda. Tapi yakinkah anda telah selesai dengan semua ini? Dan dimana posisi anda saat ini?

Sampai disini, saya ingin menyadarkan anda. Bahwa yang anda baca diatas Cuma sekedar refleksi untuk melanjutkan retorika dan dinamika ini. Mari bahas ke apa yang ingin saya sampaikan.

Wisuda
Menurut wikipedia, Wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Sedangkan menurut KBBI, wisuda adalah peresmian atau pelantikan yg dilakukan dng upacara khidmat.
Dalam upacara yang sakral dalam wisuda, terdapat prosesi yang mistis hingga saat ini. Prosesi tersebut yaitu pemindahan tali toga. Pemindahan tali toga yang semula bersampir disebelah kiri lalu oleh rektor/ketua fakultas dipindahkan ke sebelah kanan. Banyak diantara kita pasti tidak mengerti kenapa harus dipindahkan? Simbolik kah? Atau adat? Hmmm..cekidot.

“Toga merupakan simbol yang menyatakan bahwa mahasiswa telah lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat. Tali toga sebelah kiri maksudnya adalah selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakan adalah otak kiri. Dimana otak kiri itu hanya berhubungan dengan bahasa dan hafalan. Nah teman, dipindahkan tali toga dari kiri ke kanan itu dimaksudkan agar setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri, tetapi harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Dimana otak kanan ini berhubungan dengan daya imajinasi, kreatifitas dan inovasi seseorang. Hal ini berhubungan dengan jenis pekerjaan yang nantinya dipilih dalam dunia kerja.

Diharapkan untuk para mahasiswa yang telah lulus, kita tidak hanya menggunakan otak kiri yang hanya mengandalkan berkeja pada orang lain. Namun harus mampu berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif yang menggunakan otak kanan dalam menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Ingat! Pada saat tali toga berpindah, anda dinyatakan seorang sarjana dengan title berkilau emas dibelakang nama anda dan tanggung jawab besar merangkul dinama anda untuk dipergunakan dan dimanfaatkan kepada lingkungan sekitar anda dan diri sendiri. Disaat itu pula anda akan dengan halus ‘disingkirkan’ dari kampus untuk menuju dunia LIAR yang tak lagi bersahabat dengan anda. Gemeletap akan mengusir anda dari keasrian kampus yang selama ini anda tempati.

Pendidikan tinggi memang tidak menjanjikan kita untuk bekerja lebih mudah, tapi setidaknya dengan berpendidikan tinggi anda memiliki kualitas pengetahuan yang lebih untuk melihat dan membuat kesempatan kerja. Atau membuka pikiran untuk mengetahui sesuatu hal tentang asumsi salah yang selama ini kita anut.

sudah dapat gambaran, dimana posisi anda saat ini?

Bonus : *jangan dibaca, nyelekit ini*
Illustrasi Orang Bodoh Vs Orang Pintar dari Mario Teguh
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pinter. Alhasil bossnya orang pinter adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan. Maka dia rekrut orang pinter yang tidak pernah salah untuk memperbaki yang salah. Alhasil orang bodoh memerintah orang pinter untuk keperluan orang bodoh.

Orang pinter belajar untuk mendapatkan ijasah untuk selanjutnya mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapat uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pinter. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia phk orang2 pinter yang berkerja tapi orang2 pinter DEMO. Alhasil orang-orang pinter meratap-ratap kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pinter selalu mencari kolom lowongan pekerjaan.

nah. . pasti akan timbul pertanyaan :
1. Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh?
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?

3. mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
4. Mana yang lebih susah antara orang pinter atau orang bodoh?

intinya : jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh. Jadilah orang bodoh yang pinter daripada jadi orang pinter yang bodoh. Kata kuncinya adalah resiko dan usaha karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang resiko kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resiko besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut dan mengabdi kepada orang bodoh.


Sepenggal bonus dari mario teguh sangat menarik untuk disimak dan dibahas. Lepas dari wisuda, pendidikan tinggi,orang bodoh atau pinter setiap manusia memiliki kesempatan dengan nama “BELAJAR”. Dan kemampuan untuk belajar setiap orang sama, belajar apa saja dan dari mana saja.
semua keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya. Dan perhatikan apa yang terjadi dan dimana posisi anda saat ini?

Regard

Jiu Joss

bahan referensi :
www.tangkaiputih.blogspot.com
www.kaskus.com
www.wikipedia.org
kbbi
Mario Teguh#jadi ragu mau diposting public, judul ama isi berlainan. hmmmm

17 Apr 2013

Puisi Bpk. BJ Habibie (Rate *****)


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan
dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku
serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan,
sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga
aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.


selamat jalan sayang,
cahaya mataku,
penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

B.J. Habibie